Wahyu Nur Iman berpose dengan tangan bersilang memakai kaos VISIONUR

Wahyu Nur Iman.

E-commerce, marketplace & growth. Sebagian besar terbentuk di Shopee: dari 2 toko menjadi 5, termasuk 2 Shopee Mall. Founder Visionur, tempat saya berbagi pelajaran dari marketplace.

Awal perjalanan

Saya mulai dari menjalankan toko sendiri. Dari situ saya belajar pelan-pelan soal market, produk, data, funnel, dan iklan, lalu soal sistem, tim, dan keputusan bisnis.

Yang bisa saya pertanggungjawabkan

Angka dan hasil dari pengalaman mengelola toko di PT AQWAM Media Profetika, sejak Februari 2024.

5

toko yang dikelola

Toko bertambah dari 2 menjadi 5, masing-masing dengan karakter dan produk berbeda.

2

naik ke Shopee Mall

Dua dari lima toko berhasil berkembang hingga masuk Shopee Mall.

Rp2–3M

GMV gabungan 5 toko

Di titik puncak per bulan.

Rp300jt

penjualan per bulan dari tim yang saya bimbing

Tim yang saya bimbing sampai mampu menghasilkan penjualan sendiri.

GMV adalah total nilai penjualan toko, bukan pendapatan pribadi saya.

Bukti dari dashboard dan Seller Centre

Dashboard penjualan gabungan lima toko: dana penjualan Rp151.839.143 dan 1.929 pesanan dalam satu hari, dengan grafik tren per jam dan tujuh hari terakhir. Nama toko disamarkan.
Rp151,8 jutaGabungan 5 toko, kampanye 9.9

Gabungan 5 toko saat kampanye 9.9, 9 September 2026 sampai pukul 20.39. 1.929 pesanan. Ini hari puncak, bukan rata-rata harian.

Shopee Seller Centre Toko 1: penjualan hari ini Rp92.990.355. Nama toko dan produk disamarkan.
Rp92,99 jutaToko 1

Toko 1. 797 pesanan dari 22.419 pengunjung, konversi 6,91%.

Shopee Seller Centre Toko 2: penjualan hari ini Rp50.078.861. Nama toko dan produk disamarkan.
Rp50,08 jutaToko 2

Toko 2. 599 pesanan dari 30.919 pengunjung, konversi 7,40%.

Shopee Seller Centre Toko 3: penjualan hari ini Rp28.379.888. Nama toko dan produk disamarkan.
Rp28,38 jutaToko 3

Toko 3. 307 pesanan dari 6.107 pengunjung, konversi 4,66%.

GMV di atas adalah beberapa bukti GMV yang dihasilkan dari 5 toko yang saya pegang.

Sumber: dashboard gabungan dan Shopee Seller Centre, 9 September 2026. Angka dashboard gabungan dan Seller Centre tidak sama karena kedua alat menghitung penjualan dengan cara berbeda, jadi jumlah ketiga toko bisa berbeda dari angka gabungan. Nama toko dan produk disamarkan.

Perjalanan saya nggak langsung besar

Ada fase mulai sendiri, ada fase berhenti, lalu ada fase ketika saya kembali dan benar-benar belajar bagaimana sebuah toko dibangun dari nol.

  1. 2020

    Mulai sendiri

    Saya menjalankan produk digital dan jasa media sosial di Shopee secara mandiri, tumbuh secara organik. Di sini saya pertama kali merasakan bagaimana mencari produk, mencari pembeli, dan mendapat penjualan tanpa mengandalkan iklan.

  2. Jeda

    Kuliah & keluarga

    Perjalanan itu sempat saya hentikan untuk menyelesaikan kuliah dan membangun keluarga.

  3. Februari 2024

    PT AQWAM Media Profetika

    Saya kembali ke e-commerce secara penuh dan membangun operasional toko dari nol, dimulai dari 2 toko.

  4. 2 → 5 toko

    Ekspansi

    Toko bertambah menjadi 5, masing-masing dengan karakter dan produk berbeda: buku anak, Al-Qur'an, dan buku Islam dari imprint PT AQWAM. Di fase ini saya belajar operasional, market, produk, iklan, forecasting, dan affiliate sekaligus.

  5. Shopee Mall

    Dua toko naik ke Shopee Mall

    Dua dari lima toko berhasil berkembang hingga masuk Shopee Mall.

  6. Sistem

    SOP, KPI, dan tim

    Ketika toko makin besar, pekerjaan tidak bisa terus bergantung pada satu orang. Saya menyusun SOP, KPI, dan alur kerja, lalu membimbing tim sampai mampu menghasilkan penjualan sendiri.

  7. Puncak

    Skala tertinggi

    Titik ketika kelima toko berjalan bersamaan pada skala tertingginya, dengan SOP, KPI, dan tim yang sudah terbentuk.

  8. Sekarang

    AI & automation

    Perhatian saya mulai bergeser ke satu hal: bagaimana AI dan automation bisa membuat pekerjaan yang sudah berjalan jadi lebih sederhana, cepat, dan terukur.

Dari menyelesaikan tugas ke mengambil keputusan.

TUGAS

Dulu fokus saya memastikan pekerjaan selesai.

KEPUTUSAN

Semakin lama, pertanyaan yang saya ajukan berubah:

  • Kenapa pekerjaan ini dilakukan?
  • Data apa yang mendasarinya?
  • Masalah sebenarnya apa?
  • Keputusan apa yang paling masuk akal?
  • Bagaimana supaya prosesnya tidak bergantung pada saya?
  1. TugasPekerjaan selesai
  2. KonteksKenapa ini dikerjakan
  3. DataApa yang sebenarnya terjadi
  4. KeputusanApa yang perlu diubah
  5. Dampak bisnisApa hasilnya untuk toko

Cara saya bekerja

Bukan metode baku, tapi pola yang terbentuk dari berkali-kali menghadapi masalah toko. Yang paling sering saya ulang adalah langkah 06: apa yang berhasil, saya jadikan sistem.

  1. 01 Definisikan masalah

    01 Definisikan masalah. Masalah sebenarnya apa, bukan gejalanya.

  2. 02 Baca data

    02 Baca data. Angka apa yang berubah, dan sejak kapan.

  3. 03 Susun hipotesis

    03 Susun hipotesis. Dugaan yang bisa dibuktikan benar atau salah.

  4. 04 Uji

    04 Uji. Ubah satu hal, beri waktu dan volume yang cukup.

  5. 05 Pelajari

    05 Pelajari. Hasilnya sesuai dugaan atau tidak, dan kenapa.

  6. 06 Sistemkan

    06 Sistemkan. Yang berhasil dijadikan SOP, template, atau tool.

  7. 07 Scale

    07 Scale. Dikembangkan setelah hasilnya konsisten.

Yang saya periksa dari sebuah toko

Ini daftar yang saya periksa saat membaca data sebuah toko (langkah 02 di atas). Semakin lama mengelola toko, saya semakin jarang melihat masalah dari satu angka. Gulir atau pilih satu tahap untuk melihat pertanyaannya.

Studi kasus terpilih

Empat pekerjaan yang paling menggambarkan cara saya bekerja: masalahnya apa, apa yang saya lakukan, hasilnya, dan apa yang saya pelajari.

01

Scaling marketplace: 2 toko menjadi 5

Operasional, ekspansi, Shopee Mall

Masalah
Menambah toko berarti menambah produk, pekerjaan, dan risiko. Tantangannya adalah bertumbuh tanpa membuat operasional kacau.
Yang saya lakukan
Membangun operasional dari nol di 2 toko, lalu mengembangkannya ke 5 toko dengan karakter dan produk berbeda: buku anak, Al-Qur'an, dan buku Islam dari imprint PT AQWAM.
Hasil
5 toko aktif, 2 di antaranya naik ke Shopee Mall. GMV gabungan sekitar Rp2–3 miliar per bulan di titik puncak.
Yang saya pelajari
Skala menambah kerumitan lebih cepat daripada menambah omzet. Tanpa sistem, pertumbuhan justru membuat operasional rapuh.
02

Membangun orang dan sistem

SOP, KPI, pengembangan tim

Masalah
Di awal, banyak pekerjaan bergantung pada saya. Semakin besar operasionalnya, cara itu tidak bisa terus dipertahankan.
Yang saya lakukan
Menyusun SOP dan KPI untuk balas chat, proses pesanan, follow-up kendala, pesanan bermasalah, banding retur, dan investigasi. Membimbing tim dari nol, membangun alur affiliate, dan mendampingi peserta magang dari yayasan mitra.
Hasil
Tim yang saya bimbing mampu menghasilkan penjualan Rp300 juta per bulan. Peserta magang didampingi sampai pondok mereka punya sumber pemasukan mandiri.
Yang saya pelajari
Sistem yang baik membuat orang lain bisa bekerja dan mengambil keputusan tanpa selalu menunggu saya.
03

Market, produk, data, lalu keputusan

Riset market, funnel, unit economics

Masalah
Keputusan produk dan iklan mudah diambil berdasarkan feeling, apalagi saat angka turun karena penalti Star+ atau kompetitor yang mulai agresif.
Yang saya lakukan
Riset market dan winning product, termasuk dari request pembeli. Membaca funnel dan unit economics sebelum menyentuh iklan. Saat kondisi sulit, kembali ke data dulu, cari penyebabnya, baru putuskan apa yang perlu diubah.
Hasil
Kerangka membaca toko dari market sampai scale yang saya pakai sampai sekarang, dan yang kemudian melahirkan ROAS Command.
Yang saya pelajari
Feeling tetap berguna untuk memulai dugaan. Tapi keputusan perlu dibuktikan dengan data.
04

ROAS Command: dari masalah berulang menjadi tool

Google Sheets, Apps Script, tool internal

Masalah
Perhitungan dan evaluasi iklan dilakukan berulang-ulang. Dan ROAS yang terlihat tinggi belum tentu untung setelah HPP, fee, biaya pesanan, dan pajak iklan dihitung.
Pendekatan
Membangun tool sendiri dengan Google Sheets dan Apps Script, bukan menunggu software besar.
Output
ROAS Command: menghitung batas ROAS aman dan harga jual, membaca file export iklan Shopee lewat upload CSV, mengoreksi PPN 11% yang belum dihitung dashboard Shopee, menampilkan diagnostik funnel, dan memisahkan data tiap pengguna lewat login Google. Awalnya untuk tim internal, lalu dikembangkan untuk rekanan dan reseller.
Yang saya pelajari
Automation tidak harus dimulai dari software besar. Masalah yang berulang bisa diselesaikan dengan workflow sederhana yang dibuat lebih sistematis.

Tool yang lahir dari masalah nyata di pekerjaan.

Ini versi ringkasnya. Angka awal hanya contoh, silakan ganti.

Beda tiap sub-kategori
Margin kotor
-
Break-even ROAS
-
Profit kotor per order
-
Profit setelah iklan per order
-

Yang bisa saya bawa ke sebuah tim

Marketplace & e-commerce

Terbiasa memegang beberapa toko sekaligus, dari listing sampai pesanan yang bermasalah.

  • Operasional multi-toko
  • Produk dan listing
  • Membaca perilaku pembeli

Performa & data

Membaca angka toko dan iklan, lalu mencari tahu kenapa angkanya seperti itu.

  • Funnel, CTR, CVR, ROAS
  • Evaluasi kampanye
  • Forecasting dan analitik marketplace
  • Dari data ke keputusan

Membangun sistem

Kalau sebuah pekerjaan terus berulang, saya coba jadikan SOP, laporan, atau tool.

  • SOP dan KPI
  • Reporting dan dashboard laporan penjualan
  • Google Sheets, Apps Script, dan ROAS Command

Tim & eksekusi

Menerjemahkan target jadi pekerjaan yang jelas untuk tim, lalu membimbing orangnya.

  • Koordinasi dan delegasi
  • Alur kerja tim
  • Mengembangkan orang dan pendampingan magang

AI & automation

Masih terus belajar: AI untuk membantu berpikir, automation untuk pekerjaan yang berulang.

  • AI sebagai thinking partner
  • Knowledge base
  • Automation dan eksperimen workflow

Siap bekerja dalam organisasi

Kebiasaan kerja yang terbentuk dari mengelola banyak toko dan tim, dan bisa dibawa ke organisasi yang lebih besar.

  • SOP & dokumentasi
  • Analisis data
  • Membangun workflow
  • Perbaikan proses
  • Komunikasi

Sekarang saya sedang membangun layer berikutnya

Buat saya, AI bukan pengganti fundamental bisnis. AI membantu saya lebih cepat membaca informasi, berpikir, menyusun sistem, dan menjalankan pekerjaan yang berulang.

  • Pengalaman e-commerceOperasional, data, dan sistem yang sudah berjalan
  • Konteks bisnisTahu masalah mana yang layak diselesaikan
  • AIPartner untuk mengolah dan berpikir lebih cepat
  • AutomationPekerjaan berulang yang tidak perlu manual
  • Kemampuan workflow yang sedang tumbuhYang sedang saya latih sekarang

Saya bukan AI engineer. Saya praktisi e-commerce yang sedang membangun kemampuan AI untuk memperkuat pekerjaan yang sudah saya pahami.

Sambil itu, saya juga membangun

Visionur

Tempat saya berbagi dan mengembangkan pemikiran dari pengalaman bermain di marketplace.

Visionur lahir dari hal-hal yang saya temui di lapangan: penalti toko, kompetitor yang agresif, iklan yang terlihat bagus tapi ternyata rugi. Di sini saya merapikan pelajaran itu dan membagikannya ke sesama seller. Bukan untuk menggurui, tapi untuk berbagi pengalaman dan uneg-uneg seller.

  1. Pengalaman marketplace
  2. Pembelajaran
  3. Pemikiran
  4. Dibagikan
  5. Visionur
  • 01Berpikir jangka panjangBukan cuma order hari ini, tapi arah toko ke depan.
  • 02Melihat peluangDi balik masalah dan kompetitor, selalu ada celah.
  • 03AdaptifBelajar, mencoba, mengukur, lalu menyesuaikan.
  • 04MenginspirasiIlmu dibagikan supaya orang lain berani bergerak.

Strategi tepat, orderan berlipat.

Alat yang pernah saya pakai

Tools yang pernah menjadi bagian dari pekerjaan saya.

  • Shopee Seller Centre
  • BigSeller
  • AsistenSeller
  • Data Pintar
  • Duoke
  • Tokpee
  • Google Sheets
  • Apps Script
  • Claude AI & thinking partner

Saya tidak menganggap tools sebagai skill utama. Yang lebih penting adalah tahu masalah apa yang ingin diselesaikan, lalu memilih tools yang memang membantu.

Wahyu Nur Iman

Area yang paling dekat dengan saya

Area yang paling dekat dengan pengalaman dan arah belajar saya.

  • E-commerce & marketplace
  • Performance marketing
  • Growth
  • Digital commerce
  • Marketplace operations
  • Commercial & business
  • Marketing analytics
  • Marketing technology & automation

Pendidikan

S1 Ilmu Hukum

Latar belakang saya bukan marketing atau bisnis. Buat saya, belajar hukum melatih cara berpikir terstruktur, membaca konteks, memperhatikan detail, dan menyusun argumen, yang ternyata terpakai setiap hari saat membaca data toko.

Terbuka untuk kesempatan berikutnya.

Kalau ada yang ingin dibicarakan, soal pekerjaan, project, atau sekadar bertukar pengalaman, pintunya lewat LinkedIn atau email.

  • OpportunityPeran atau kesempatan kerja di area yang paling dekat dengan saya, seperti yang disebut di atas.
  • CollaborationProject, workflow, dan pengembangan bersama.
  • ConversationNgobrol, bertukar pengalaman, atau mengenal satu sama lain.